Mari berkaca sebelum memberi kaca

Siang tadi saya membaca sebuah postingan terbaru di blog teman saya.  Dan menurut saya ada sesuatu yang lucu disana walaupun isi postingannya bukanlah sesuatu yang bersifat humor ataupun lawakan. Justru isi postingannya adalah sesuatu yang serius, yaitu berisi kritikannya tentang suatu fenomena. Lalu dimana letak lucunya? Karena menurut saya, sekali lagi, mungkin hanya menurut saya kritikannya itu lebih cocok untuk ditujukan kepada dirinya sendiri daripada untuk orang lain.

Naudzubillahhimindzalik ya Allah. Saya ga pengen kejadian itu terjadi kepada saya. Saya ga pengen ketika apa yang saya bicarakan malah menjadi bumerang yang kembali lagi ke muka saya. Apalagi kalau itu bersifat sesuatu yang mengkritik atau lebih buruknya lagi menghina orang lain, padahal diri kita sendiri mungkin tidak lebih baik daripada orang yang kita hina. Mungkin maksud dari teman saya itu baik, yaitu untuk berbagi pemikirannya dan mengingatkan orang lain, tapi apa salahnya bila kita berkaca dahulu sebelum memberi kaca kita kepada orang lain.

Dari kejadian ini saya bisa mengambil suatu hikmah, yaitu bahwa saya harus lebih berhati-hati dalam berbicara ataupun menulis, lebih cerdas dalam berpikir, dan yang terpenting adalah untuk tidak berhenti memperbaiki diri karena kita tidak akan pernah bisa lebih baik daripada orang lain. Satu hal lagi yang bisa saya lakukan adalah mendoakan teman saya itu agar dia bisa sadar bahwa sebaiknya Ia menuruti saran-saran yang Ia tulis sendiri. Karena ketika saya ingin mengingatkannya dengan menulis sebuah komen, ternyata blog nya tidak dilengkapi dengan aplikasi itu. Hahaha.. please don’t be so critical if you can’t be critized.

Advertisements