The Tale of Xanthine Oxidase Part 1

Seperti yang sering saya singgung di post-post sebelumnya, saya sekarang sedang menempuh tahun terakhir sebagai mahasiswa S1 dan lagi hectic-hectic nya ngejalanin Tugas Akhir a.k.a TA. Kalau mau nyeritain tentang TA saya tuh kayaknya ceritanya bakal panjaaaang bgt, seriously. Kalau pake bahasa gaul anak jaman sekarang, TA Saya ngelawan mainstream *halah*

Jadi dimulai dari awal tahun 2011, ceritanya saya punya senior di FKK (Farmasi Klinik dan Komunitas), sebut saja namanya Kak Laras. Kakak saya yang satu ini ngambil TA di KK Biologi Farmasi (tentang bahan alam dan teman-temannya). Suatu hari tidak sengaja saya mendengar salah satu teman Saya, Uci, menjadi TA Helper Kak Laras. Entah kenapa hati saya tergerak untuk ikutan membantu, yaa sekalian nambah pengetahuan lah yaa.. Dan Saya berhasil mengajak my best partner in crime, Dyah, untuk ikut juga. Akhirnya kami bertiga menjadi TA helper kak Laras.Tapi waktu itu saya belum tertarik untukk TA disitu juga.

Kemudian tiba di pertengahan Juni, saya harus mengambil matakuliah TA dan memilih satu KK, diantara Farmakologi, Farmaseutika, Farmakokimia, dan Biologi Farmasi. Dan sebagai mahasiswa FKK, saya mendapat satu keuntungan, yaitu dapat memilih TA bukan di laboratorium a.k.a TA kering. Wow! Asik banget kan, bisa tinggal ambil data, 2 bulan beres, tinggal olah data, analisis, voila! No need trial and error atau optimasi metode. Sluurp.

Tapi, sebagai mahasiswa yang penuh idealisme *ceilah*, saya memilih untuk TA di laboratorium. Whaat? Padahal saya adalah anak FKK yang bahkan setiap praktikum cuman ketawa-ketiwi, ngerjain dengan asal, dan jam terbang yang rendah. Beda banget sama anak STF (Industri Farmasi) yang emang kerjaannya praktikum tiada henti. Tapi mau gimana lagi, daripada harus ngeliatin tulisan dokter di rekam medik atau nguber-nguber orang buat kuesioner, lebih baik saya bertahan di kampus dengan orang-orang yang udah saya kenal juga. Kalau harus ngurusin perizinan, berurusan ama birokrasi. haduuh maak..

Selain alasan minat, yaa itu tadi ada alasan idealisme. Dulu alasan saya mau milih farmasi adalah frame bahwa farmasis itu scientist banget, pake jas lab, kerjaannya di laboratorium. Tapi karena saya masuk FKK dan ga berhasil dapet kesan itu, makanya di tahun terakhir ini, saya pengen banget mewujudkan impian itu. Saya pengen bisa nulis judul TA yang panjang dan gaul, penuh dengan istilah aneh, sampai orang lain ga ngerti. Saya pengen hasil TA saya itu bener-bener bisa berguna untuk masyarakat *ceilah*. Tapi idealisme tetaplah sebuah idealisme, sekarang yang ada hanyalah penyesalan, KENAPA DULU GA AMBIL TA KERING AJA? KENAPAA?? KENAPAAA??  #penyesalanNo.1. Akan saya ceritakan nanti kenapa bisa berujung seperti itu *sigh*.

Lalu sekarang harus memilih KK. Lagi-lagi Saya memilih jalan tidak biasa, yaitu Biologi Farmasi. Sebagai anak FKK, matakuliah yang berasal dari KK itu cuman 1/5 dari semua matakuliah FKK. 2/5 nya adalah dari KK Farmakologi. Gila kan. Ilmu saya tentang tumbuhan tuh kayaknya dangkaaal banget. Terus kenapa ga ambil Farmakologi aja? Karena kalau saya ambil TA di laboratorium di farmakologi, it means harus main-main ama tikus, mencit, kelinci, atau hewan-hewan lainnya. Iyuuh.. No way. Ga mau. Ora iso. Teu tiasa. Pokoknya ga mau aja. Dan akhirnya setelah melewati berbagai pertimbangan, saya berani memilih KK biologi farmasi, Dan yang pada akhirnya akan menjadi #penyesalanNo.2

Topik yang saya ambil berhubungan dengan enzim. Dulu waktu praktikum, saya pernah ngitung aktivitas enzim. Rasa-rasanya lancar-lancar aja, cepet pula. Tapi akhirnya akan menjadi #penyesalanNo..3. Udah mahal banget, ga stabil lagi. hhuhuhu..

Bener aja kan cerita tentang TA saya itu panjaaaang banget, dan ini baru menceritakan perjalanan awal saya, Post selanjutnya saya akan menceritakan tentang TA dan penyesalan-penyesalan saya. Haha. Catch u later! 🙂

Advertisements