When was your turning point?

Pernah ga memikirkan kapan turning point kamu? Tadinya saya ga pernah memikirkannya, sampai saya menemukan pertanyaan itu saat mengisi sebuah form. Turning point means when there’s an action or an event that influence you to takes a turn for the better or for the worse version of you, or changes direction or your point of view. Yaa intinya seperti itu. Setiap orang pasti pernah mengalami turning point, pernah berubah. Mungkin hanya ga semua orang pernah memikirkannya aja. 

Tiga tahun yang lalu, ketika saya mendapat pertanyaan itu, saya tanpa ragu langsung menjawab dengan satu moment. Tapi kalau sekarang saya diberi pertanyaan yang sama, saya akan memberi jawaban dengan dua moment yang berbeda.

Waktu kecil saya anak yang sangat pemalu dan tidak punya kepercayaan diri. Apalagi setelah saya harus memakai kacamata minus dari kelas 4 SD. I felt like i’m the ugliest girl in the world. I didnt know much about fashion, how to take care of my self. Terutama setelah masa puber saya datang, jerawat memenuhi muka saya. Saya ga ngerti mesti gimana. Saya jadi orang yang tertutup, pemalu, rendah diri, and there’s nothing that i can be proud of. Saya seringkali menarik diri dari dunia sosial, cenderung mengkotak-kotakan orang lain, sehingga saya ga terlalu punya banyak teman. Masa SD dan SMP itu masa dark age banget pokoknya. 

Sampai di kelas 1 SMA, saya berteman dengan seseorang sungguh amat saya syukuri saya pernah berteman dengannya. Namanya Mela. Dia cantik, powerfull, pinter, menarik, percaya diri dan sangat supel. Kami, dengan 2 teman lainnya, berteman dekat sampai kami membuat grup dengan nama yang sangat alay. Haha. Melihat Mela yang cantik dan mau berteman dengan siapa saja, membuat saya menjadi bercermin. Apa yang saya takutkan selama ini? Kenapa saya bisa sombong banget ga mau berteman dengan teman-teman yang cantik dan gaul? Siapa tau mereka sebenernya ga masalah berteman dengan siapa saja, saya saja yang menghindar dari mereka. Dengan berteman dengan Mela, saya mendapat kepercayaan diri dan keberanian. Saya juga banyak belajar mengenai komunikasi dan bersosialisasi. Dan akhirnya walaupun perubahan yang terjadi ga drastis, tapi setidaknya point of view saya sudah berubah. Dalam diri saya, saya merasa berubah sangat banyak tanpa merubah tampilan luar saya. Masih bukan pretty girl dan anak gaul.

Kemudian turning point kedua adalah ketika kurang lebih dua tahun lalu. Ga ada tahun atau bulan yang pasti. Ga ada tokoh tunggal. Ga ada moment spesifik. Justru yang terjadi adalah berbagai moment, masalah, kejadian, dan semua perubahan yang terjadi pada keluarga saya. My small family turned out to be a bigger family. Some strangers are coming. There are adorable baby. My parents getting older and older. Mungkin orang akan berpikir, memang bisa berubah sejauh apa? Saya bisa katakan, sangat jauh berbeda. Bagaimana pandangan saya mengenai pernikahan. Bagaimana perubahan drastis pada kakak-kakak saya. Bagaimana pandangan saya kepada orang tua saya. Bagaimana menyikapi berbagai masalah yang ada. Bagaimana membimbing adik saya. Dan yang terpenting adalah bagaimana tujuan hidup saya.

Saya yang dulu mungkin hanya terfokus dengan apa yang ingin saya lakukan. Apa mimpi saya, bagaimana meraihnya. Keinginan saya untuk bisa mandiri secepatnya dan lepas dari keluarga saya. Tapi sekarang, yang selalu saya pikirkan adalah mengenai keluarga saya. Ego menjadi luruh dengan sendirinya. Ketika saya harus memilih, saya akan berpikir mana yang terbaik untuk keluarga. Silahkan tanyakan setiap jalan yang saya pilih, pasti there’s some family affair.

Mungkin ga semua orang menyadari perubahan saya, tapi sekali lagi, point of view saya sangat berubah. I turned out to be a really different person for these 2 years. Perubahan bisa jadi baik atau buruk. Selain jadi orang berbeda, saya rasa saya juga berubah jadi orang yang lebih baik. Amiin.

So, when was your turning point? 🙂

Advertisements